Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat yang paling tinggi. Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan Mahasuci dari segala kekurangan.
Dalam memahami nama dan sifat Allah, Ahlussunnah wal Jamaah berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menetapkan nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya serta yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan bagi-Nya.
Selain itu, mereka mengimani dalil tersebut tanpa melakukan takyif (menentukan bagaimana hakikat sifat Allah), tahrif (mengubah makna), tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk), atau ta’thil (menolak sifat Allah).
Prinsip ini menjadi landasan penting dalam mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya memahami nama dan sifat-Nya berdasarkan petunjuk wahyu serta menghindari penjelasan tanpa dasar.
1. Tidak Menentukan Bagaimana Hakikat Sifat Allah (Takyif)
Ahlussunnah wal Jamaah mengimani sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam dalil. Namun, mereka tidak menentukan bagaimana hakikat sifat tersebut.
Para sahabat membaca Al-Qur’an dan hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama itu, mereka menerima petunjuk beliau tanpa membuat gambaran tentang hakikat sifat Allah berdasarkan imajinasi.
Ketika seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang istiwa’ Allah di atas ‘Arsy, beliau menjawab dengan perkataan yang masyhur:
الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة
“Istiwa’ itu diketahui maknanya, hakikat bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan mempertanyakannya merupakan bid’ah.”
(Rujukan yang dicantumkan dalam naskah sumber: I‘tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashabil Hadits, hlm. 22.)
Perkataan tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim perlu mengimani sifat Allah tanpa menentukan bagaimana hakikatnya. Sebab, manusia tidak memiliki pengetahuan untuk menetapkan hakikat tersebut berdasarkan dugaan.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”
(QS. Asy-Syura: 11)
Dengan demikian, kita mengimani sifat Allah sekaligus menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk. Kita juga tidak boleh membayangkan sifat-Nya berdasarkan bentuk atau keadaan makhluk yang kita kenal.
2. Tidak Mengubah Makna Sifat Allah (Tahrif)
Ahlussunnah wal Jamaah menolak perubahan makna nama dan sifat Allah tanpa landasan dalil. Dalam pendekatan yang dibahas pada artikel ini, mereka memahami nash sesuai maknanya dan tetap meyakini bahwa sifat Allah tidak menyerupai sifat makhluk.
Sebagai contoh, naskah sumber membahas sifat istiwa’ Allah di atas ‘Arsy dan sifat yad yang disebutkan dalam dalil. Berdasarkan pendekatan tersebut, seorang muslim tidak boleh mengganti makna yang ditunjukkan nash dengan makna lain tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Demikian pula ketika memahami hadis tentang nuzul, yaitu hadis yang menyebutkan Allah turun ke langit dunia. Seorang muslim mengimani hadis tersebut tanpa menentukan bagaimana hakikatnya.
Lantas, apakah manusia mampu mengetahui hakikat zat Allah secara menyeluruh? Tentu tidak. Akal manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah tidak menyerupai makhluk.
Karena itu, kita harus mendasarkan pembahasan nama dan sifat Allah pada wahyu. Sebaliknya, kita tidak boleh mengandalkan dugaan atau imajinasi untuk menjelaskan perkara gaib.
Kesamaan nama tidak berarti kesamaan hakikat
Perhatikan penggunaan kata “daun” dalam dua kalimat berikut:
- “Gedung ini memiliki banyak daun pintu.”
- “Daun pohon itu tampak rindang.”
Kedua kalimat tersebut menggunakan kata yang sama. Namun, kata “daun” memiliki pengertian berbeda sesuai konteksnya.
Contoh ini membantu kita memahami bahwa kesamaan nama tidak selalu menunjukkan kesamaan hakikat, bahkan di antara sesama makhluk. Terlebih lagi, Allah sebagai Pencipta tentu tidak sama dengan makhluk-Nya.
Oleh sebab itu, kesamaan nama sifat antara Allah dan makhluk tidak berarti kesamaan hakikat. Kita mengimani sifat Allah berdasarkan wahyu, sekaligus meyakini kesempurnaan dan keagungan-Nya.
3. Tidak Menyerupakan Allah dengan Makhluk (Tamtsil)
Ahlussunnah wal Jamaah menolak penyerupaan Allah dengan makhluk. Mereka menetapkan sifat Allah tanpa menyamakan hakikatnya dengan sifat makhluk.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”
(QS. Asy-Syura: 11)
Ayat tersebut menjadi dasar penting dalam memahami sifat Allah. Allah menetapkan sifat bagi diri-Nya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Sebagai contoh, naskah sumber menyebutkan sifat dua tangan Allah berdasarkan QS. Shad ayat 75. Dalam kerangka akidah yang dibahas di sini, seorang muslim mengimani sifat tersebut berdasarkan dalil tanpa menyamakan hakikatnya dengan tangan manusia.
Prinsip yang sama berlaku pada sifat Allah lainnya. Karena itu, kita tidak boleh membayangkan bentuk, ukuran, atau cara sifat Allah berdasarkan keadaan makhluk.
Dengan demikian, mengimani sifat Allah tidak berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk. Sebaliknya, seorang muslim menetapkan sifat berdasarkan dalil dan menyucikan Allah dari segala keserupaan.
4. Tidak Menolak Sifat Allah (Ta’thil)
Selain menolak penyerupaan, Ahlussunnah wal Jamaah juga menolak tindakan meniadakan sifat Allah yang telah disebutkan dalam dalil.
Allah memperkenalkan diri-Nya melalui nama dan sifat yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh menolak suatu sifat hanya karena ia tidak mengetahui hakikatnya.
Kita mengimani bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Penyayang. Kita menerima sifat-sifat tersebut berdasarkan wahyu. Dengan prinsip yang sama, kita juga mengimani sifat lain yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.
Namun, pengimanan tersebut tidak memberi kita hak untuk menentukan bagaimana hakikat sifat Allah. Kita tetap harus mengikuti dalil dan menghindari penyerupaan dengan makhluk.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, pelanggaran hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak Dia turunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”
(QS. Al-A’raf: 33)
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Karena itu, setiap penjelasan mengenai nama dan sifat-Nya harus berlandaskan dalil serta sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
5. Penjelasan Para Ulama tentang Nama dan Sifat Allah
Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap pemahaman nama dan sifat Allah. Berikut sejumlah nukilan yang tercantum dalam naskah sumber.
a. Imam Sufyan bin ‘Uyainah
Beliau dinukil mengatakan:
كل ما وصف الله به نفسه في كتابه فتفسيره قراءته، والسكوت عنه ليس لأحد أن يفسره إلا الله ورسوله صلى الله عليه وسلم
“Setiap sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Kitab-Nya, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang dibaca. Tidak ada seorang pun yang berhak memberikan penjelasan berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa petunjuk Allah dan Rasul-Nya.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Tanbih Dzawi al-Albab as-Salimah ‘an al-Wuqu‘ fi al-Alfaz al-Mubtadi‘ah al-Wakhimah, hlm. 54.)
Dalam nukilan lainnya, beliau disebut mengatakan:
كل ما وصف الله به نفسه في القرآن فقراءته تفسيره لا كيف ولا مثل
“Setiap sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang dibaca, tanpa menentukan bagaimana hakikatnya dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Al-Shifat karya Ad-Daraquthni, hlm. 41.)
b. Imam Malik dan Imam Al-Awza’i
Naskah sumber mencantumkan perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah:
إِيَّاكُمْ وَالْبِدَعَ
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara bid’ah.”
Dalam penjelasan yang dinukil tersebut, Imam Malik mengingatkan agar umat berhati-hati ketika membahas nama dan sifat Allah, kalam-Nya, ilmu-Nya, serta kekuasaan-Nya tanpa mengikuti petunjuk para sahabat dan tabi’in.
(Rujukan dalam naskah sumber: Al-Wajiz fi ‘Aqidati as-Salaf ash-Shalih Ahlis Sunnah wal Jama‘ah, hlm. 51.)
Selanjutnya, Al-Walid bin Muslim meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Al-Awza’i, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Malik bin Anas tentang hadis-hadis mengenai sifat Allah dan ru’yah, yaitu melihat Allah di akhirat. Mereka menjawab:
أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلَا كَيْفٍ
“Biarkanlah hadis-hadis tersebut sebagaimana datangnya, tanpa menentukan bagaimana hakikatnya.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Al-Wajiz fi ‘Aqidati as-Salaf ash-Shalih Ahlis Sunnah wal Jama‘ah, hlm. 51.)
c. Imam Abu Hanifah
Naskah sumber juga mencantumkan perkataan yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah:
لا ينبغي لأحد أن ينطق في ذات الله بشيء، بل يصفه بما وصف به نفسه، ولا يقول فيه برأيه شيئًا
“Tidak sepantasnya seseorang berbicara tentang zat Allah tanpa dasar. Sebaliknya, hendaklah ia menetapkan bagi Allah apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan tidak berbicara tentang-Nya berdasarkan pendapatnya sendiri.”
Ketika membahas sifat nuzul, nukilan tersebut menyebut jawaban berikut:
يَنْزِلُ بِلَا كَيْفٍ
“Dia turun tanpa menentukan bagaimana hakikatnya.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Al-Wajiz fi ‘Aqidati as-Salaf ash-Shalih Ahlis Sunnah wal Jama‘ah, hlm. 52.)
d. Imam Asy-Syafi’i
Naskah sumber menukil perkataan yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
آمَنْتُ بِاللَّهِ، وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللَّهِ عَلَى مُرَادِ اللَّهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ
“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Aku juga beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Al-Wajiz fi ‘Aqidati as-Salaf ash-Shalih Ahlis Sunnah wal Jama‘ah, hlm. 51.)
e. Imam Ahmad bin Hanbal
Naskah sumber mencantumkan beberapa nukilan dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Salah satunya berasal dari riwayat Abu Bakar al-Maruzi tentang hadis-hadis mengenai sifat Allah, ru’yah, Isra’, dan ‘Arsy.
Dalam riwayat tersebut, Imam Ahmad membenarkan hadis-hadis yang ditanyakan kepadanya dan menjelaskan penerimaan umat terhadap hadis-hadis tersebut. Naskah sumber merujuk Manaqib Asy-Syafi’i karya Ibnu Abi Hatim, hlm. 182.
Naskah itu juga mencantumkan perkataan berikut:
نَحْنُ نُؤْمِنُ بِأَنَّ اللَّهَ عَلَى الْعَرْشِ، كَيْفَ شَاءَ وَكَمَا شَاءَ، بِلَا حَدٍّ، وَلَا صِفَةٍ يَبْلُغُهَا وَاصِفٌ أَوْ يَحُدُّهُ أَحَدٌ
“Kami beriman bahwa Allah berada di atas ‘Arsy sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada seorang pun yang mampu membatasi-Nya atau menjangkau hakikat sifat-Nya dengan penjelasan yang sempurna.”
(Rujukan dalam naskah sumber: Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan-Naql karya Ibnu Taimiyah, jilid 2, hlm. 30.)
Berbagai nukilan tersebut mengingatkan kita agar berhati-hati ketika membahas nama dan sifat Allah. Karena itu, kita perlu memeriksa sumber asli setiap kutipan agar redaksi dan penisbatannya tepat.
6. Hadis tentang Pertanyaan “Di Mana Allah?”
Naskah sumber juga mencantumkan hadis Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis tersebut, beliau menceritakan seorang budak perempuan yang menggembalakan kambingnya.
Setelah terjadi suatu peristiwa, Mu’awiyah membawa perempuan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah bertanya:
أَيْنَ اللَّهُ؟
“Di mana Allah?”
Perempuan itu menjawab:
فِي السَّمَاءِ
“Di langit.”
Selanjutnya, Rasulullah bertanya:
مَنْ أَنَا؟
“Siapakah aku?”
Perempuan itu menjawab bahwa beliau adalah utusan Allah. Setelah itu, Rasulullah memerintahkan Mu’awiyah untuk memerdekakannya.
Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dalam Shahih Muslim. Hadis tersebut menjadi salah satu dalil yang dibahas para ulama dalam kajian akidah mengenai sifat Allah.
Oleh karena itu, kita perlu memahami hadis tersebut berdasarkan redaksi riwayat yang sahih dan penjelasan ulama. Pada saat yang sama, kita tetap berpegang pada prinsip bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 11.
Penutup: Mengenal Allah Berdasarkan Wahyu
Mengenal Allah ‘Azza wa Jalla merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, kita perlu mempelajari nama dan sifat-Nya berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah yang sahih, serta penjelasan ulama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Artikel ini menekankan empat prinsip: menetapkan sifat berdasarkan dalil, tidak menentukan hakikatnya, tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, dan tidak meniadakan sifat yang telah ditetapkan dalam wahyu.
Allah Mahasempurna dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya menjaga lisannya dan menghindari perkataan tentang Allah tanpa ilmu.
Semoga Allah memberikan pemahaman agama yang benar kepada kita. Semoga Dia membimbing kita untuk mengikuti petunjuk wahyu dan menjauhkan kita dari perkataan tentang-Nya tanpa ilmu.
Judul buku: Catatan Singkat tentang “Mengenal Allah ‘Azza wa Jalla”
Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc., hafizhahullah
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya.

