Ruang Sharing KB Permata Sunnah “Turunkan Ekspektasi, Anak bukan Target Ambisi”

Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, sering kali orang tua merasa terdorong untuk menetapkan ekspektasi yang tinggi terhadap anak-anak mereka, bahkan sejak usia dini. Anak-anak dianggap sebagai cerminan keberhasilan keluarga, sehingga prestasi dan kemampuan anak menjadi tolok ukur kebanggaan orang tua. Namun, penting bagi kita sebagai orang tua menyadari bahwa anak bukanlah target ambisi atau proyek prestasi yang harus disempurnakan. Justru, masa kanak-kanak adalah waktu untuk eksplorasi, belajar, dan tumbuh sesuai dengan ritme dan kapasitas mereka masing-masing.

Dengan latar belakang permasalahan diatas, pada hari Sabtu, 21 September 2024, Komite KB Permata Sunnah berkolaborasi dengan sekolah, mengadakan kegiatan ruang sharing (RuRing) dengan tema “Turunkan Ekspektasi, Anak bukan Target Ambisi” bersama ibu Nur Laili Zakiyyah Fathnawati, S.Pd. Tema ini cukup penting mengingat masih banyak dari orang tua yang masih sering kali terjebak dalam keinginan agar anak mereka cepat bisa membaca, menulis, berhitung, menghafal surah pendek atau menunjukkan bakat khusus lainnya. Meskipun tidak salah untuk mendukung perkembangan anak, namun perlu diingat dengan terlalu banyak memberikan tekanan kepada anak, bisa menyebabkan anak merasa stres dan tidak menikmati proses belajar.

Memulai pembahasannya, Ibu Nur Laili Zakiyyah Fathnawati, S.Pd yang akrab di sapa Ibu Nur Laili, menjelaskan apa itu ekspektasi dan ambisi. “Ekspektasi merupakan suatu pola pikir yang dipegang untuk membantu orang berubah dari waktu ke waktu, dari lama ke baru dan dari hal yang tidak diketahui menjadi tahu di mana kesemua hal tersebut dapat membantu seseorang dalam menghadapi tuntutan di masa yang akan datang. Sedangkan Ambisi adalah hal yang orang tua inginkan terjadi pada masanya tiba”, jelas ibu Nur Laili. Diantara ekspektasi dan harapan orang tua kepada anak yaitu memiliki anak sehat dan cerdas, sholih dan berakhlak baik, tumbuh kembangnya baik sesuai tahapan usianya, mudah bersosialisasi terhadap sesama, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lantas muncul pertanyaan, “apa yang kita lakukan sebagai orang tua ketika harapan tidak sesuai kenyataan??”. Disini ibu Nur Laili menjelaskan langkah-langkah yang bisa dilakukan sebagai orang tua, jika menjumpai permasalahan diatas.

  • Menyadari setiap anak unik dengan potensinya masing-masing.

    Setiap anak memiliki potensi yang berbeda, keunikan anak terlihat dalam berbagai aspek, mulai dari cara mereka berpikir, berinteraksi, hingga bagaimana mereka bereaksi terhadap lingkungan di sekitarnya. Potensi setiap anak tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga mencakup kemampuan sosial, emosional, kreativitas, dan kecerdasan kinestetik. Dengan mengenali hal ini, kita sebagai orang tua dan pendidik dapat memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan bakat dan minat yang mereka miliki tanpa membandingkan mereka dengan anak-anak lain.

    • Memberikan stimulasi yang tepat sesuai umur.

    Stimulasi yang sesuai usia akan membantu otak anak tumbuh dan berkembang dengan baik. Otak anak sangat plastis, artinya pada masa awal kehidupan, otak memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap informasi dan berkembang melalui pengalaman. Oleh karena itu, stimulasi yang tepat pada waktu yang tepat dapat memaksimalkan potensi perkembangan anak. Namun, perlu diingat bahwa stimulasi yang berlebihan atau tidak sesuai dengan usia anak dapat menyebabkan kebingungan, frustrasi, atau bahkan penurunan minat belajar. Itulah mengapa memberikan stimulasi yang seimbang dan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sangatlah penting.

    • Mengurangi ekspektasi terhadap pencapaian anak.

    Mengurangi ekspektasi terhadap pencapaian anak bukan berarti menurunkan standar atau mengabaikan pentingnya perkembangan mereka. Sebaliknya, hal ini adalah tentang memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan kecepatan mereka sendiri. Terlalu banyak ekspektasi atau tekanan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional anak dan menghambat kemampuan mereka untuk mengeksplorasi dan menikmati proses belajar.

    • Mengapresiasi setiap hasil dengan cara yang tepat.

    Salah satu cara terbaik untuk mengapresiasi anak adalah dengan memuji usaha yang mereka lakukan, bukan hanya hasil akhirnya. Ini membantu anak memahami bahwa kerja keras dan proses belajar adalah hal yang penting, sehingga mereka akan lebih fokus pada perbaikan diri dan kegigihan. Tidak semua hasil harus sempurna untuk bisa diapresiasi. Apresiasi juga bisa diberikan ketika anak mencoba hal baru atau berani keluar dari zona nyaman mereka, meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Ini akan membantu anak melihat bahwa belajar adalah proses yang penuh dengan eksperimen dan kesalahan yang wajar.

    Diakhir pembahasan, ibu Nur Laili memberikan tips dan trik bagi orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak, diantaranya adalah : Jadikan cinta dan kepedulian sebagai prioritas utama, berikan ruang untuk proses pertumbuhan, jadilah teladan (contoh yg baik), berikan dukungan yang konsisten, kenali dan pahami kemampuan anak, bangun komunikasi secara terbuka, ajarkan resiliensi (daya juang tinggi) dan hindari membandingkan anak dengan anak lain.

    “Setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri, biarkan anak bertumbuh dengan sejatinya diri dengan rasa bahagia, bebas terbatas dan diterima.”

    Related posts

    Persun Edufest 2026 Resmi Digelar, Ketua Yayasan Sampaikan Rasa Syukur dan Kebanggaan

    Kunjungan Syaikh Dr. Rashid Al Habsi hafizhahullah, perwakilan dari Dar Al Ber Society di Sekolah Islam Permata Sunnah

    Donasi Kemanusiaan untuk Palestina Tahap 2 – ZISWAF Yayasan Nida’ul Fithrah Sidoarjo